Retrospektif - Lakon Seni dari Masa ke Masa

Retrospektif - Lakon Seni dari Masa ke Masa

16 April 2018

Whatsapp image 2018 04 13 at 16.09.42

Keberadaan seni menjadi sebuah penanda kapan dan dimana peradaban manusia itu bermula. Seni rupa memiliki bahasa rupa, seni musik memiliki bahasa nada dan ritme, demikian pula seni sastra, pertunjukkan dan film memiliki bahasanya sendiri-sendiri. Tak ada bahasa yang bisa menyederhanakan sebuah estetika dari seni satu ke seni yang lainnya.

Seperti halnya kehidupan manusia yang beradaptasi dengan kemajuan zaman, kesenian sebagai salah satu penanda keberadaan manusia pun mengalami hal yang sama. Pada mulanya, kesenian dibatasi berdasarkan satuan waktu, yaitu primitif (kuno) hingga kontemporer (kini).

Pada zaman primitif, seni merupakan suatu proses mimetic atau meniru alam, pergerakan  seni pada zamannya sangat erat dengan alam. Seni primitif memperlihatkan keselaran dengan alam sebagai pemberi kehidupan dan penjaga hal-hal yang kekal.

Lalu pada zaman medio, seni sebagai menjadi sebuah jeda antar zaman primitif ke zaman modern, pergerakan seni pada zamannya menghadirkan keberadaan manusia di tengah keselarasan dengan alam. Kala itu ciptaan manusia sama tinggi dengan tiruan alam, antara statis dan dinamis, nyata dan fana, hidup dan mati, manusia dan pemberi kehidupan. Di zaman medio, seni mulai diperjualbelikan, memberi makna dan impresi golongan tertentu. Kehadirannya memberi keistimewaan di tengah pertarungan kelas antar manusia.

Zaman modern menjadi penanda pergerakan seni yang menekankan ekspresi manusia, ada unsur pembaharuan dalam penggunaan media, teknik dan asal-muasal ide suatu karya seni. Pada zaman ini, seni yang dihasilkan tidak mengikat ruang dan waktu, seperti beberapa lukisan karya Van Gogh, Affandi, Basuki Abdullah dan Pablo Picasso.

Kontemporer adalah pergerakan seni yang terbentuk karena modernisasi, seiring perkembangan zaman, sesuatu yang sama dengan kondisi saat ini. Seni yang dihasilkan pun seni yang tidak mengikat, seperti sebuah kolaborasi antara masa lalu dan masa kini, antara seni rupa, sastra, musik, pertunjukkan dan film.

Pergerakan awal tahun yang dilakukan oleh EV Hive dan PT. Pos Indonesia pada Gedung Filateli Jakarta adalah bentuk kolaborasi ide yang tidak mengikat, antara masa lalu dan masa kini, antara ide baru sebuah ruang bersama untuk komunitas dan pemanfaatan tempat bersejarah di Jakarta.

EV Hive @ Filateli adalah coworking space ke-19 dari sejak awal didirikannya EV Hive pada tahun 2015. Keberadaan EV Hive dan Gedung Filateli, Post Telefon en Telegraf, menjadi titik terang antara warisan kolonial yang dihiasi kaca-kaca mozaik dan masa depan pergerakan komunitas  di tengah pekembangan arus komunikasi dan teknologi.

Category: EV Hive, retrospektif, gedung filateli, Filateli